Halobojonegoro.id, Bojonegoro – Upaya menjadikan Geopark Bojonegoro sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGGp) terus mendapat penguatan dari berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi dan lembaga internasional. Hal ini tercermin dari kunjungan Vice President Global Geopark Network (GGN), Profesor Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo, ke kampus Universitas Bojonegoro (Unigoro), Selasa (20/1/26).
Dalam lawatannya bersama Komite Geopark Nasional Indonesia serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Ibrahim memaparkan strategi pengembangan Geopark Bojonegoro yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, khususnya antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat lokal.
Menurut Prof. Ibrahim, geopark bukan sekadar kawasan geologi, melainkan warisan terintegrasi yang harus dikelola secara bersama-sama. Ia menekankan perlunya mekanisme pengelolaan yang jelas agar geopark dapat terpelihara sekaligus memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar.
“Geopark adalah integrated heritage yang saling berkaitan dalam pengelolaannya. Harus dihargai dan dikonservasi. Geopark tidak ada artinya jika tidak bermanfaat bagi masyarakat lokal,” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, pria berkebangsaan Melayu ini juga mengulas sejarah perkembangan geopark di Asia Tenggara. Ia mencontohkan keberhasilan Langkawi yang menyandang status UNESCO Global Geopark sejak 2007, setelah melalui proses panjang yang melibatkan koordinasi intensif antar pemangku kepentingan.
Prof. Ibrahim juga menyoroti nilai strategis beberapa situs di Bojonegoro, salah satunya Antiklin Kawengan di kawasan Wonocolo. Meski tampak sederhana, menurutnya, kawasan tersebut memiliki nilai sejarah dan kebangsaan yang tinggi karena telah dimanfaatkan masyarakat sejak tahun 1880 sebagai sumber minyak mentah.
“Perlu ada rencana konservasi yang jelas agar keberlanjutan kawasan seperti ini tetap terjaga,” tegasnya.
Sementara itu, Profesor Dr. Norzaini Azman dari Universiti Kebangsaan Malaysia menambahkan bahwa pengelolaan geopark menuntut kontribusi dari berbagai disiplin ilmu, tidak terbatas pada kajian geologi semata. Ia mengapresiasi peran Universitas Bojonegoro dalam mendukung pengembangan Geopark Bojonegoro sebagai bagian dari upaya meraih pengakuan UNESCO.
Menurutnya, kampus memiliki ruang besar untuk mendorong program service learning, proyek riset, maupun inisiatif pemberdayaan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
“Pengembangan geopark harus menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Karena masyarakat lokal harus dilibatkan sebagai bagian dari proses dan manfaatnya,” jelasnya.
Kehadiran asesor UNESCO dalam forum kuliah umum di Unigoro ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting bagi Geopark Bojonegoro dalam menyongsong proses penilaian UNESCO Global Geopark pada Juni 2026.(Mu)




















Komentar