DLH Bojonegoro Targetkan Pengurangan Sampah 63,41 Persen, Perkuat Bank Sampah dan Siapkan Teknologi Masaro

Strategi pengelolaan sampah difokuskan dari tingkat rumah tangga untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPA

banner 468x60

Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Upaya menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi fokus utama pemerintah daerah di Kabupaten Bojonegoro. Melalui berbagai program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pemerintah berupaya membangun sistem yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Langkah tersebut terus diperkuat oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro yang saat ini tengah mengembangkan berbagai inovasi pengelolaan sampah dari tingkat hulu.

banner 336x280

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bojonegoro, Luluk Alifah, menjelaskan bahwa pemerintah daerah menargetkan pengurangan sampah hingga 63,41 persen pada tahun ini. Target tersebut mengacu pada kebijakan daerah yang tertuang dalam dokumen Jakstrada Pengelolaan Sampah Bojonegoro.

Menurutnya, salah satu strategi utama untuk mencapai target tersebut adalah dengan mengoptimalkan peran bank sampah yang tersebar di berbagai wilayah desa dan kelurahan.

Bank sampah diharapkan mampu menjadi titik awal pemilahan sampah sebelum akhirnya dikirim ke tempat pembuangan akhir. Dengan sistem ini, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi hanya berfokus pada proses pengangkutan dan pembuangan, tetapi harus dimulai dari proses pemilahan di tingkat rumah tangga.

Dengan langkah tersebut, volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan secara signifikan sehingga kapasitas tempat pembuangan akhir dapat bertahan lebih lama.

Saat ini, berdasarkan hasil evaluasi pemerintah daerah, kapasitas lahan TPA di Bojonegoro diperkirakan masih mampu menampung sampah hingga sekitar lima tahun ke depan.

Namun demikian, pemerintah daerah tetap menyiapkan berbagai langkah antisipatif agar daya tampung TPA dapat diperpanjang sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari penumpukan sampah.

Salah satu inovasi yang tengah dipersiapkan adalah penerapan teknologi Masaro (Manajemen Sampah Zero). Sistem ini mengusung konsep pengelolaan sampah yang lebih produktif dengan mengubah paradigma lama pengelolaan sampah.

Jika sebelumnya sistem pengelolaan sampah lebih menekankan pada pola “kumpul–angkut–buang” yang cenderung menjadi beban biaya atau cost center, maka melalui teknologi Masaro konsep tersebut diubah menjadi sistem “pilah–angkut–proses–jual”.

Dengan pendekatan ini, sampah tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Selain penguatan dari sisi teknis, DLH Bojonegoro juga menekankan pentingnya penegakan aturan terhadap pelanggaran terkait pembuangan sampah sembarangan.

Pengawasan di sejumlah titik yang selama ini rawan dijadikan lokasi pembuangan sampah liar akan diperketat. Pemerintah daerah juga menegaskan akan memberikan sanksi kepada pelanggar sesuai dengan ketentuan dalam peraturan daerah yang berlaku.

Menurut Luluk Alifah, keberhasilan program pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat.

Ia mengimbau warga untuk mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah, terutama dengan memisahkan sampah organik dan anorganik.

Langkah sederhana tersebut dinilai memiliki dampak besar dalam mengurangi beban TPA sekaligus meningkatkan efektivitas proses daur ulang.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan komunitas lingkungan, guna memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan pengelolaan sampah di Bojonegoro dapat berjalan lebih efektif, sekaligus memberikan dampak positif terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat di masa depan.(Mu)

banner 336x280

Komentar