Halobojonegoro.id BOJONEGORO – Kegiatan reses anggota DPRD Bojonegoro dari Fraksi PKB, Miftahul Huda, yang digelar di Joglo Malo pada Kamis (21/11), memunculkan satu benang merah: masyarakat desa membutuhkan solusi yang lebih konkret untuk menghadapi perubahan sosial dan ekonomi yang semakin cepat. Tidak hanya sekadar menyampaikan aspirasi, forum tersebut berubah menjadi ruang evaluasi bersama tentang ketahanan desa dalam menghadapi tantangan ke depan.
Dari sektor pertanian, persoalan klasik kembali mencuat namun dengan tekanan yang semakin kompleks. Fatoni, perwakilan petani, memaparkan bahwa serangan hama tikus yang kian merajalela bukan lagi masalah musiman melainkan ancaman serius terhadap produktivitas. Di saat yang sama, ketergantungan pada pupuk anorganik membuat petani semakin rentan menghadapi fluktuasi harga dan kelangkaan. Ia mendesak pemerintah untuk memperkuat kelembagaan petani agar mereka lebih adaptif dan mampu menemukan solusi secara mandiri.
“Pelatihan pembuatan pupuk organik sangat mendesak bagi kami,” ujarnya, menegaskan bahwa kemandirian petani tidak mungkin tercapai tanpa pendampingan yang terstruktur dan berkelanjutan. Menurutnya, petani butuh lebih dari sekadar bantuan—mereka butuh akses pada pengetahuan dan sistem yang mendukung.
Di sisi lain, kelompok pedagang menghadapi tekanan dari perubahan perilaku belanja masyarakat akibat digitalisasi. Siti Nur Mukhomimah menyampaikan bahwa kios kelontong dan pasar tradisional semakin ditinggalkan. Kehadiran toko modern dan platform belanja online menggeser konsumen, membuat pedagang kecil semakin kesulitan bertahan. Ia meminta pemerintah menyiapkan regulasi yang lebih melindungi usaha kecil serta program promosi pasar tradisional agar tetap relevan.
Tak kalah penting, suara pemuda desa juga menyoroti persoalan yang selama ini kerap terabaikan: minimnya pelatihan berbasis kebutuhan lapangan. Menurut Heni Listianto, pemuda desa membutuhkan akses pelatihan yang lebih konkret, bukan sekadar formalitas tanpa dampak. Ia menekankan perlunya kebijakan yang membuka jalur kerja dan peluang wirausaha agar pemuda tidak semakin tertinggal dalam kompetisi global.
Dalam suasana dialog yang terbuka dan interaktif, reses ini memperlihatkan bagaimana berbagai lapisan masyarakat menghadapi tantangan yang saling berkaitan. Mulai dari pertanian, ekonomi mikro, hingga pemberdayaan pemuda, semuanya menggambarkan kebutuhan mendesak akan kebijakan yang lebih menyentuh akar persoalan.
Kegiatan reses di Joglo Malo bukan sekadar forum penerimaan aspirasi, tetapi cermin dinamika desa yang tengah berupaya mempertahankan daya saing di tengah perubahan zaman. Masukan yang disampaikan pada kesempatan ini diharapkan menjadi landasan bagi penyusunan program pemerintah yang lebih responsif dan berpihak pada kebutuhan riil masyarakat. (red)




















Komentar