Misteri Malam Songo di Napis: Kisah Bulan yang Mengubah Takdir

Cerita fiksi berlatar Desa Napis, Tambakrejo, Bojonegoro, tentang seorang perempuan yang menghadapi fenomena Malam Songo yang dipercaya membawa pertanda gaib.

banner 468x60

Di tulis oleh: Beny Maylili

Halobojonegoro.id – Malam itu terasa berbeda di Desa Napis. Angin berhembus pelan, namun membawa hawa dingin yang merayap hingga ke tulang. Langit tampak gelap tanpa bintang, seolah menutup sesuatu yang tak ingin diperlihatkan.

banner 336x280

Bulan berdiri di depan rumahnya, memeluk tubuhnya sendiri. Ia sudah mendengar tentang Malam Songo sejak kecil—malam yang konon hanya datang pada waktu tertentu, ketika batas antara dunia nyata dan yang tak kasat mata menjadi begitu tipis.

“Jangan keluar rumah saat Malam Songo,” pesan ibunya dulu.

“Tapi kenapa?” tanya Bulan kecil.

“Karena tidak semua yang datang di malam itu adalah manusia.”

Kini, bertahun-tahun kemudian, Bulan justru berdiri di luar, menantang ketakutan yang dulu hanya ia dengar sebagai cerita.

Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.

Pelan. Teratur. Namun tidak terlihat siapa pun.

Bulan menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin keluar dari dadanya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya angin, atau mungkin hewan malam. Tapi suara itu semakin dekat.

Krek…

Pintu rumah tetangganya terbuka dengan sendirinya.

Bulan mundur selangkah. Matanya tak berkedip menatap ke arah suara itu. Dalam gelap, ia melihat bayangan samar—seperti sosok manusia, tapi berdiri terlalu diam. Terlalu sunyi.

“Siapa di sana?” suaranya bergetar.

Tak ada jawaban.

Namun bayangan itu perlahan bergerak mendekat.

Bulan ingin berlari. Kakinya ingin bergerak, tapi tubuhnya seperti terkunci. Ingatannya melayang pada cerita-cerita lama: tentang orang yang menghilang setelah melihat sesuatu di Malam Songo, tentang mereka yang kembali… tapi bukan lagi dirinya sendiri.

Angin tiba-tiba berembus lebih kencang.

Lampu-lampu rumah di kejauhan padam satu per satu.

Gelap kini benar-benar menelan Desa Napis.

Bayangan itu berhenti tepat beberapa langkah di depan Bulan.

Dan untuk pertama kalinya, Bulan melihat wajahnya.

Kosong.

Tanpa mata. Tanpa ekspresi. Hanya kehampaan yang menatap balik ke arahnya.

Bulan menjerit.

Namun suaranya seperti tertelan malam.

Dalam sekejap, semuanya hening.

Ketika fajar datang, warga Desa Napis menemukan pintu rumah Bulan terbuka. Tak ada tanda perlawanan, tak ada jejak apa pun.

Hanya satu hal yang tersisa di depan rumahnya—

Jejak langkah yang berhenti begitu saja di halaman.

Sejak saat itu, warga kembali mengingat satu hal yang lama hampir dilupakan:

Malam Songo bukan sekadar cerita.

Dan tidak semua yang hilang… akan kembali.

Cerita ini merupakan karya fiksi yang terinspirasi dari cerita rakyat dan kepercayaan masyarakat setempat.

banner 336x280

Komentar