Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Memprihatinkan bangunan sekolah di Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, membuka mata publik mengenai tantangan pendidikan di daerah terpencil. Meskipun Bojonegoro dikenal sebagai daerah dengan APBD besar, masih terdapat sekolah-sekolah di pelosok yang bertahan dengan fasilitas serba terbatas. Video itu memperlihatkan ruang belajar berdinding papan, beratap asbes, dan tanpa lantai layak.
Dalam rekaman, terlihat siswa yang beristirahat di ruang kelas sederhana sambil dipandu seorang guru pria. Sekat ruang yang terbuat dari kayu dan kondisi atap bocor menggambarkan bagaimana kegiatan belajar dilakukan di tengah keterbatasan sarana. Bangunan itu bahkan disebut-sebut tidak bisa digunakan saat hujan karena lubang atap yang cukup besar.

Situasi tersebut menjadi viral dan memunculkan banyak komentar warganet yang prihatin. Sebagian besar mempertanyakan apakah fasilitas seperti itu masih wajar ditemukan, terlebih di kabupaten yang memiliki dana mengendap triliunan rupiah. Reaksi publik menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan anggaran dan realitas lapangan.
Camat Tambakrejo, Kasmari, kemudian memberikan klarifikasi bahwa sekolah tersebut merupakan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di bawah yayasan yang dibangun di atas tanah wakaf. Pembangunan gedung itu dilakukan dua tahun lalu sebagai langkah awal menyediakan pendidikan terdekat bagi anak-anak di desa tersebut.
Meski bukan bangunan pemerintah, kondisi sekolah ini menjadi simbol bahwa akses pendidikan layak di daerah terpencil masih membutuhkan perhatian serius. Kasus ini mengingatkan bahwa kebutuhan dasar pendidikan tidak hanya soal status kelembagaan, tetapi juga soal kepedulian dan pemerataan pembangunan. (Red)



















Komentar