PPNS Bidik Potensi Tahu Ledok dan Industri Lokal, Kolaborasi Kampus-UMKM Disiapkan di Bojonegoro

Perguruan tinggi turun langsung memetakan kebutuhan pelaku usaha untuk menghadirkan inovasi, penguatan bisnis, hingga solusi teknologi bagi UMKM Ledok Kulon

banner 468x60

Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Potensi ekonomi lokal di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, mulai dilirik kalangan akademisi. Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) turun langsung ke sentra-sentra usaha masyarakat guna menjajaki peluang kolaborasi yang dapat memperkuat daya saing UMKM sekaligus mendorong lahirnya inovasi berbasis kebutuhan riil pelaku usaha.

Melalui kunjungan lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Sabtu (6/6/2026), tim PPNS yang dipimpin Ir. Ari Lendartono bersama dosen dan mahasiswa lintas jurusan melakukan pemetaan terhadap sejumlah potensi unggulan yang dimiliki Ledok Kulon.

banner 336x280

Beberapa sektor yang menjadi perhatian antara lain sentra produksi arang bakar, industri Tahu Ledok yang telah dikenal luas, hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai memiliki peluang pengembangan melalui sentuhan teknologi dan riset terapan.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, menyambut positif keterlibatan dunia akademik dalam mendukung perkembangan UMKM daerah.

Menurutnya, kehadiran perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk menjembatani berbagai persoalan yang selama ini dihadapi pelaku usaha, mulai dari penguatan kualitas produk hingga perluasan pasar.

“Kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat merupakan bentuk perhatian nyata terhadap perkembangan UMKM. Ini menjadi kesempatan berharga bagi pelaku usaha untuk menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi sehingga dapat ditemukan solusi bersama,” ujar Cantika.

Ia menjelaskan, tantangan UMKM saat ini tidak hanya terkait permodalan, tetapi juga menyangkut kemasan produk, branding, pemasaran digital, legalitas usaha, hingga standarisasi produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci untuk mendorong UMKM naik kelas dan lebih adaptif terhadap perkembangan pasar.

Cantika mencontohkan Tahu Ledok yang selama puluhan tahun menjadi identitas kuliner Bojonegoro. Produk tersebut kini tidak hanya dipasarkan di wilayah lokal, tetapi juga telah menjangkau sejumlah daerah seperti Tuban, Blora, dan Gresik.

Menurutnya, dengan dukungan inovasi produk, penguatan merek, serta strategi pemasaran yang lebih modern, produk-produk unggulan Ledok Kulon memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas.

Sementara itu, Ari Lendartono menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya PPNS membangun kolaborasi yang berkelanjutan dengan pemerintah daerah dan masyarakat.

“Kami ingin melihat secara langsung peluang kolaborasi yang dapat diwujudkan bersama UMKM di Ledok Kulon. Hasil diskusi dan pemetaan kebutuhan ini nantinya diharapkan menjadi dasar penyusunan program riset maupun pengabdian masyarakat yang memberikan manfaat langsung bagi warga,” jelasnya.

Melalui pemetaan kebutuhan yang dilakukan, PPNS berharap dapat merancang program yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan usaha masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem UMKM yang lebih kuat, inovatif, dan berdaya saing sehingga mampu menjadi salah satu motor penggerak perekonomian daerah di Kabupaten Bojonegoro.(*red)

banner 336x280

Komentar