Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Di tengah perlambatan sektor minyak dan gas yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi daerah, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai menyiapkan langkah strategis untuk membaca ulang kekuatan ekonomi daerah. Salah satunya melalui pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 yang resmi dimulai dengan pelatihan petugas sensus dan deklarasi komitmen bersama di Ballroom Hotel Dewarna, Jumat (12/6/2026).
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah membuka kegiatan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya sensus sebagai instrumen pemetaan kondisi ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Menurutnya, data yang akurat menjadi fondasi utama dalam merumuskan kebijakan pembangunan dan kesejahteraan warga.
“Sampaikan kepada masyarakat bahwa sensus ini tidak berkaitan dengan pajak. Tujuannya untuk memperoleh gambaran riil kondisi ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat,” ujar Nurul Azizah di hadapan ratusan petugas sensus.
Pernyataan itu muncul di tengah tantangan ekonomi yang sedang dihadapi Bojonegoro. Berdasarkan data pemerintah daerah, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 hanya tumbuh 0,02 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut dipengaruhi oleh kontraksi sektor migas yang mencapai 8,72 persen.
Meski demikian, sektor pertanian menunjukkan kinerja impresif dengan pertumbuhan mencapai 14,2 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Jawa Timur. Kenaikan aktivitas pada sektor makanan dan minuman, layanan kesehatan, serta berbagai jasa lainnya turut membantu menahan dampak perlambatan migas.
Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal penting bahwa struktur ekonomi Bojonegoro mulai mengalami pergeseran. Karena itu, hasil Sensus Ekonomi 2026 diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih detail mengenai sektor-sektor usaha yang berkembang dan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, mengatakan sebanyak 1.479 petugas akan diterjunkan untuk melakukan pendataan lapangan mulai 15 Juni hingga 1 Agustus 2026. Sebelum turun ke lapangan, seluruh petugas mendapatkan pelatihan intensif guna memastikan kualitas dan keseragaman metode pengumpulan data.
“Pendataan dilakukan secara serentak dan terstandar agar data yang dihasilkan benar-benar berkualitas serta dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan,” kata Syawaluddin.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro hingga jajaran kecamatan dan desa dalam menyukseskan agenda statistik nasional yang digelar setiap satu dekade tersebut.
Menurut Syawaluddin, keberhasilan sensus sangat bergantung pada profesionalisme petugas di lapangan. Karena itu, seluruh petugas diminta menjaga integritas dan tidak melakukan manipulasi data dalam bentuk apa pun.
“Data yang akurat akan menentukan kualitas kebijakan yang dihasilkan. Karena itu tidak boleh ada rekayasa data. Mari bersama-sama mencatat wajah ekonomi Bojonegoro secara jujur dan utuh,” tegasnya.
Melalui sensus ini, Bojonegoro tidak hanya menghimpun angka-angka statistik, tetapi juga berupaya menemukan arah baru pembangunan ekonomi di tengah tantangan berkurangnya kontribusi sektor migas. Data yang terkumpul nantinya diharapkan menjadi kompas bagi pemerintah dalam menentukan strategi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan merata.(red)




















Komentar