Halobojonegoro.id, Bojonegoro – Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) menunjukkan hasil signifikan. Memasuki tahun pertama pelaksanaannya, program prioritas pengentasan kemiskinan tersebut dinilai berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima manfaat sekaligus membentuk pola pikir mandiri di tingkat rumah tangga.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan bahwa Gayatri bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan strategi jangka panjang untuk menciptakan ketahanan ekonomi keluarga berbasis usaha produktif. Hal itu disampaikannya usai pelantikan pejabat di lingkungan Pemkab Bojonegoro yang digelar di kawasan wisata Kayangan Api, beberapa waktu lalu.
“Program Gayatri dalam membangun kemandirian keluarga cukup berhasil dan akan terus dilakukan pendampingan secara berkelanjutan,” ujar Setyo Wahono.
Berdasarkan hasil evaluasi dan survei yang dilakukan pemerintah daerah, tingkat keberhasilan program Gayatri tercatat mencapai sekitar 90 persen, dengan tingkat produktivitas penerima manfaat mencapai 95 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga penerima tidak hanya mampu menjalankan usaha ternak ayam petelur, tetapi juga konsisten menghasilkan pendapatan.
Menariknya, keberhasilan Gayatri tak hanya dirasakan di tingkat lokal. Program ini mulai menarik perhatian daerah lain di Indonesia sebagai model pengentasan kemiskinan berbasis kemandirian.
“Kami mendengar ada beberapa provinsi dan kabupaten yang mulai mengikuti pola kemandirian seperti ini,” ungkap Wahono.
Lebih lanjut, Bupati Wahono menjelaskan bahwa keberhasilan Gayatri diukur melalui sejumlah indikator utama. Salah satunya adalah peningkatan status kesejahteraan keluarga, yang ditandai dengan pergeseran ekonomi dari desil 1 ke desil 2. Indikator lain yang tak kalah penting adalah terbentuknya mindset kemandirian, di mana penerima manfaat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah.
“Artinya, yang kita bangun bukan hanya usaha ternak ayam petelur, tetapi juga pola pikir. Mereka mulai percaya diri, produktif, dan mampu mengelola penghasilan sendiri,” jelasnya.
Selain berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga, program Gayatri juga dinilai memiliki efek lanjutan terhadap isu sosial lainnya. Dengan terbukanya pasar telur yang stabil, keluarga penerima manfaat memiliki akses penghasilan rutin yang berpotensi menekan angka kemiskinan dan stunting di Bojonegoro.
“Pasar telur sangat terbuka. Harapannya, keberhasilan ini bukan hanya menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga berdampak pada perbaikan gizi dan penurunan stunting,” tambah Wahono.
Sebagai bentuk komitmen keberlanjutan, Pemkab Bojonegoro kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp74 miliar pada tahun 2026 untuk memperluas program Gayatri. Anggaran tersebut akan menyasar 4.400 keluarga penerima manfaat (KPM) yang tersebar di berbagai wilayah Bojonegoro.
Sebelumnya, pada APBD Induk 2025, Pemkab Bojonegoro telah menggelontorkan anggaran Rp8,9 miliar untuk 400 KPM di 10 desa pada 5 kecamatan. Program ini kemudian diperluas melalui Perubahan APBD 2025 dengan tambahan anggaran Rp86,7 miliar yang menyasar 5.000 KPM.
Dengan capaian tersebut, Gayatri kini diposisikan bukan hanya sebagai program bantuan, melainkan sebagai model pembangunan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan. Pemkab Bojonegoro memastikan pendampingan teknis, pengawasan, serta evaluasi akan terus dilakukan agar program ini tetap tepat sasaran dan mampu bertahan dalam jangka panjang. (Mu)




















Komentar