Taman Galeri Bengawan Terancam Jadi Aset Tidur, Sepi Aktivitas dan Minim Sentuhan Program

Destinasi edukasi di bantaran Bengawan Solo dinilai perlu evaluasi serius dan strategi pengelolaan baru

banner 468x60

Halobojonegoro.id, Bojonegoro – Harapan menjadikan Taman Galeri Bengawan sebagai ruang publik kreatif dan destinasi wisata alternatif di Kabupaten Bojonegoro belum sepenuhnya terwujud. Berada di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, kawasan yang dirancang sebagai pusat edukasi, seni, dan UMKM itu kini tampak lengang dan nyaris tanpa denyut kegiatan.

Pantauan di lokasi menunjukkan taman tersebut lebih sering berfungsi sebagai ruang terbuka biasa ketimbang galeri hidup. Sejumlah fasilitas terlihat jarang digunakan, sementara aktivitas seni dan pameran yang semestinya menjadi ruh utama kawasan ini nyaris tak terlihat. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa aset daerah bernilai besar itu berpotensi menjadi “aset tidur” jika tidak segera dikelola secara optimal.

banner 336x280

Seorang pengunjung, Arif, warga Kecamatan Sumberjo, menilai konsep Taman Galeri Bengawan sebenarnya cukup menarik. Namun menurutnya, faktor jarak dari pusat kota serta kurangnya agenda rutin membuat taman ini belum masuk dalam radar destinasi favorit masyarakat.

“Kalau tidak ada acara, rasanya kurang alasan untuk datang jauh-jauh ke sini. Padahal tempatnya nyaman,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Kondisi sepinya pengunjung juga dibenarkan oleh petugas loket, Sutiono. Ia menyebut lonjakan pengunjung hanya terjadi pada momen tertentu. Pada perayaan Natal 2025 lalu, jumlah pengunjung sempat menembus sekitar seribu orang. Namun memasuki awal Januari 2026, angka kunjungan turun drastis hingga hanya belasan orang.

“Sekarang sangat sepi. Kalau tidak ada kegiatan besar, pengunjung bisa dihitung jari,” ungkapnya.

Padahal, Taman Galeri Bengawan dibangun dengan tujuan strategis sebagai etalase karya seniman lokal sekaligus ruang promosi produk UMKM. Minimnya kegiatan publik dinilai membuat potensi tersebut belum tergarap maksimal. Galeri yang seharusnya dinamis justru lebih sering tertutup, meninggalkan kesan mati suri.

Sutiono berharap pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pengelolaan taman. Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas seni, pelaku UMKM, serta institusi pendidikan dapat menjadi kunci untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.

“Kalau ada agenda rutin, pameran, atau kegiatan budaya, taman ini bisa hidup. Sayang kalau hanya jadi bangunan kosong,” katanya.

Hingga saat ini, belum terlihat agenda besar yang dijadwalkan untuk menggerakkan kembali aktivitas di Taman Galeri Bengawan. Situasi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah agar pengembangan destinasi wisata tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi juga disertai strategi pengelolaan dan promosi yang berkelanjutan.(Mu)

banner 336x280

Komentar