2.135 Kasus TBC Ditemukan di Bojonegoro, Perburuan Kontak Erat Jadi Tantangan Berikutnya

Dinkes Bojonegoro mencatat capaian penemuan kasus mencapai 75,5 persen hingga Agustus 2026. Penguatan skrining dan tracing dinilai penting agar penularan tidak terus berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya

Bojonegoro, Kesehatan678 Dilihat
banner 468x60

BOJONEGORO – Upaya mengakhiri penularan Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Bojonegoro kini tidak cukup hanya dengan menemukan dan mengobati pasien. Tantangan berikutnya adalah memastikan orang-orang yang berada paling dekat dengan pasien juga terlacak dan diperiksa.

Hingga Agustus 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro mencatat sebanyak 2.135 kasus TBC telah ditemukan dan mendapatkan pengobatan. Angka tersebut mencapai sekitar 75,5 persen dari target 2.826 kasus yang ditetapkan.

banner 336x280

Kasus tersebut tersebar di seluruh 28 kecamatan dan ditangani melalui 35 puskesmas. Sejumlah wilayah mencatat penemuan kasus cukup tinggi, di antaranya Kecamatan Bojonegoro, Balen, Baureno, Dander, Kepohbaru, Sumberrejo, dan Ngraho.

Namun, tingginya angka penemuan kasus tidak otomatis berarti sebuah wilayah memiliki kondisi penularan yang lebih buruk. Sebaliknya, rendahnya angka penemuan juga tidak serta-merta menunjukkan suatu wilayah bebas dari persoalan TBC.

Justru, semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan dan masuk pengobatan dapat menunjukkan semakin aktifnya upaya menemukan penderita yang sebelumnya mungkin belum terdeteksi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr. Rury Dewi Yuni Astuti, menekankan pentingnya terus meningkatkan penemuan kasus sebagai bagian dari upaya mencapai eliminasi TBC 2030.

Setelah satu kasus ditemukan, pekerjaan belum selesai. Pasien tersebut dapat memiliki kontak serumah maupun kontak erat yang berpotensi telah terpapar. Karena itu, tracing menjadi bagian penting untuk mencari kemungkinan kasus lain sedini mungkin.

Pendekatan tersebut membuat penanganan TBC tidak hanya berfokus pada orang yang sudah sakit. Lingkungan terdekat pasien juga menjadi sasaran pemeriksaan sehingga potensi penularan dapat diketahui lebih cepat.

Strategi pelacakan kontak ini sejalan dengan kebijakan nasional. Kementerian Kesehatan pada 2026 mendorong pelacakan terhadap 100 persen keluarga dan kontak erat pasien TBC sebagai bagian dari strategi mempercepat eliminasi TBC pada 2030.

Dengan demikian, rumah dan lingkungan sekitar pasien menjadi salah satu titik penting dalam perang melawan TBC.

Di tingkat masyarakat, tantangannya bukan hanya menemukan orang yang mengalami gejala. Masih ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni keberanian masyarakat untuk memeriksakan diri serta keterbukaan keluarga ketika ada anggota rumah yang terdiagnosis TBC.

Stigma terhadap penderita dapat menjadi penghambat. Seseorang bisa saja enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan atau mendapat perlakuan berbeda dari lingkungan.

Padahal, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila penderita mendapatkan pengobatan yang tepat dan menjalani terapi sesuai ketentuan.

Karena itu, edukasi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari strategi eliminasi. Masyarakat perlu memahami bahwa pasien TBC membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan pengobatan, bukan pengucilan.

Bagi Bojonegoro, capaian 2.135 kasus yang telah ditemukan sekaligus menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah untuk mencapai target penemuan kasus. Tetapi ukuran keberhasilan tidak berhenti pada seberapa banyak kasus ditemukan.

Yang lebih penting adalah memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas, kontak erat terlacak, kasus baru segera ditemukan, dan rantai penularan dapat diputus.

Pendekatan tersebut membutuhkan kerja bersama antara puskesmas, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader, keluarga, komunitas, serta masyarakat.

Jika tracing berjalan aktif dan masyarakat semakin terbuka untuk melakukan pemeriksaan, peluang menemukan kasus lebih awal akan semakin besar.

Pada akhirnya, target eliminasi TBC 2030 bukan hanya persoalan angka statistik. Di balik setiap kasus terdapat keluarga dan lingkungan yang membutuhkan perhatian.

Karena itu, setelah 2.135 kasus berhasil ditemukan dan ditangani, pekerjaan berikutnya adalah memastikan tidak ada kontak erat yang luput dari penelusuran.

Menemukan pasien adalah langkah awal. Melacak kontak, memastikan pengobatan dan memutus penularan menjadi pekerjaan berikutnya.(*red)

banner 336x280

Komentar