Bupati Bojonegoro Dorong Warga Jadi Garda Terdepan Pengurangan Risiko Bencana

Pemkab Bojonegoro memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi bencana, mulai dari mitigasi hingga kewaspadaan kebakaran saat musim kemarau

banner 468x60

Halobojonegoro.id, BOJONEGORO — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mendorong masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan ketika bencana terjadi, tetapi mampu menjadi bagian dari upaya pencegahan dan penanganan sejak dini.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dalam kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana, Senin (10/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun masyarakat yang lebih mandiri dan tangguh menghadapi berbagai potensi bencana.

banner 336x280

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan pembekalan mengenai Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Materi mencakup pengenalan potensi bencana di lingkungan sekitar, mitigasi, kesiapsiagaan, hingga langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.

Warga Tak Boleh Hanya Menunggu Bantuan

Bupati Setyo Wahono menekankan bahwa penanganan bencana tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas penanggulangan bencana.

Masyarakat memiliki posisi penting karena berada paling dekat dengan lokasi ketika bencana terjadi. Pengetahuan dasar untuk mengenali potensi bahaya dan menentukan tindakan yang tepat dinilai dapat membantu mengurangi risiko serta mempercepat respons pada kondisi darurat.

Menurutnya, kesiapsiagaan harus dibangun menjadi kebiasaan. Pengetahuan masyarakat perlu diikuti koordinasi yang baik agar setiap warga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

Dengan pola tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menunggu bantuan datang, tetapi mampu mengambil langkah awal untuk menyelamatkan diri, membantu lingkungan sekitar, serta mencegah risiko berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Musim Kemarau, Warga Diminta Waspadai Kebakaran

Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah potensi kebakaran selama musim kemarau. Kondisi lingkungan yang kering membuat material di sekitar permukiman maupun lahan lebih mudah terbakar.

Masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, terutama di lokasi yang memiliki banyak material mudah terbakar.

Apabila pembakaran memang diperlukan, prosesnya harus dilakukan dengan pengawasan dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Api juga harus dipastikan benar-benar padam setelah kegiatan selesai.

Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mencegah api merembet dan memicu kebakaran yang lebih luas.

Bupati juga mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Jika menemukan kondisi yang berpotensi memicu kebakaran, warga diminta segera melakukan langkah pencegahan dan melaporkannya kepada pihak terkait.

Desa Tangguh Dimulai dari Warga yang Siap

Peningkatan kapasitas masyarakat tidak berhenti pada pemahaman mengenai kebakaran. Pemerintah daerah juga mendorong terbentuknya desa tangguh yang mampu menghadapi berbagai karakteristik bencana di wilayah masing-masing.

Masyarakat perlu mengetahui jalur evakuasi, titik aman, serta mekanisme koordinasi ketika keadaan darurat terjadi. Pengetahuan tersebut akan menjadi bekal penting agar warga tidak mengalami kepanikan dan dapat mengambil keputusan secara lebih cepat.

Kesiapsiagaan juga membutuhkan pembagian peran yang jelas antara pemerintah desa, BPBD, relawan, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Koordinasi lintas unsur tersebut diperlukan agar setiap pihak memahami tugas masing-masing ketika bencana terjadi. Dengan demikian, proses penanganan dapat berlangsung lebih cepat, terarah dan efektif.

Membangun Budaya Sadar Bencana

Pemkab Bojonegoro menilai membangun masyarakat tangguh tidak cukup hanya melalui sosialisasi. Pengetahuan yang diberikan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kebiasaan waspada, kepedulian terhadap lingkungan dan kesiapan menghadapi kondisi darurat.

Upaya tersebut diarahkan untuk membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Warga diharapkan mampu mengenali risiko yang ada di lingkungannya sekaligus mengambil langkah pencegahan sebelum risiko tersebut berkembang.

Kesiapsiagaan pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai tindakan ketika bencana terjadi. Lebih jauh, kesiapsiagaan merupakan upaya bersama untuk mengenali ancaman, mengurangi risiko dan memperkecil dampak sejak sebelum bencana datang.

Dengan masyarakat yang semakin sadar, mandiri dan tangguh, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap daerah tersebut memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai potensi bencana secara cepat dan responsif.(red)

banner 336x280

Komentar