Halobojonegoro.id, Bojonegoro – Malam pergantian Tahun Baru Jawa 1 Suro di kawasan Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, menghadirkan lebih dari sekadar ritual budaya. Di bawah cahaya api abadi yang telah menyala selama berabad-abad, ratusan peserta dari berbagai latar belakang agama, kepercayaan, dan daerah berkumpul dalam satu semangat: merawat persatuan Indonesia.
Sedikitnya 500 anggota Paguyuban Wujud Jiwa Semporna (PWJS) dari berbagai wilayah Nusantara memadati kawasan wisata yang dikenal dengan semburan api alamnya itu pada Senin (15/6/2026) malam. Mereka mengikuti kegiatan bertajuk Lungguh Bareng Sarasehan Agung se-Nusantara dan Doa Bersama untuk NKRI yang digelar bertepatan dengan malam 1 Suro 1948 Saka.
Suasana khidmat terasa sejak awal acara. Barisan peserta dan prajurit tradisi atau bregada yang membawa oncor menyambut prosesi pengambilan api abadi sebagai simbol pembuka rangkaian kegiatan spiritual dan kebangsaan tersebut.
Ketua PWJS, Kang Sujito, memimpin langsung pengambilan api dari sumber api alam Kayangan Api. Api kemudian digunakan untuk menyalakan obor berbentuk angka delapan yang menjadi simbol organisasi tersebut. Menurutnya, nyala api tidak hanya merepresentasikan warisan budaya, tetapi juga semangat menjaga ketenteraman batin dan nilai-nilai luhur bangsa.
Setelah prosesi berlangsung, seluruh peserta yang hadir bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengucapkan Pancasila, serta menutup rangkaian pembukaan dengan lagu Syukur. Momentum tersebut menjadi penegasan bahwa keberagaman dapat berdiri dalam satu ruang kebangsaan yang sama.
Yang menarik, sarasehan ini menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai agama dan aliran kepercayaan. Perwakilan Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, serta unsur penghayat kepercayaan yang tergabung dalam Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) duduk berdampingan mengikuti doa dan refleksi bersama.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, yang hadir mewakili Bupati Bojonegoro, menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat karakter kebangsaan generasi muda.
Menurutnya, kegiatan berbasis tradisi dan spiritualitas seperti ini dapat menjadi ruang pembelajaran tentang toleransi, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi.
Selain menjadi destinasi wisata alam, Kayangan Api kini dinilai berkembang sebagai ruang wisata spiritual yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Hal itu terlihat dari kehadiran peserta yang datang tidak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Banten, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Ketua panitia, Hendro Lukito, menyebut antusiasme peserta menunjukkan bahwa nilai-nilai persatuan dan spiritualitas masih menjadi kebutuhan masyarakat di tengah berbagai tantangan sosial yang berkembang saat ini.
Dari kawasan api abadi di Bojonegoro itu, pesan yang ingin disampaikan para peserta cukup sederhana namun kuat: keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan modal utama untuk menjaga Indonesia tetap utuh. Di tengah nyala api yang tak pernah padam, doa-doa untuk persatuan bangsa kembali dipanjatkan, berharap semangat kebersamaan terus menyala sebagaimana bara Kayangan Api yang telah bertahan melintasi zaman.(*red)




















Komentar