Halobojonegoro.id, Bojonegoro – Selama ini Kabupaten Bojonegoro kerap dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi. Namun, di balik citra industri ekstraktif tersebut, Bojonegoro perlahan menampilkan wajah lain: desa-desa produktif yang mampu mengolah potensi pertanian menjadi sumber ekonomi alternatif. Salah satunya terlihat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, yang kini menjelma menjadi destinasi agrowisata anggur.
Di desa ini, hamparan kebun anggur hijau tertata rapi, menawarkan pengalaman wisata berbeda bagi pengunjung. Tak sekadar menikmati panorama alam pedesaan, wisatawan juga diajak memetik langsung buah anggur segar dari pohonnya. Konsep petik buah inilah yang menjadi daya tarik utama, membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati suasana kebun.
Pengelola kebun anggur Bandungrejo, Junaidi, mengatakan kebun yang dikelolanya menanam berbagai varietas anggur unggulan yang sudah dikenal kualitasnya. Di antaranya anggur Everest, Julian, Laria, Jupiter, Cerny, hingga Banana. Seluruh varian dijual dengan harga Rp100.000 per kilogram dan dapat dipetik langsung oleh pembeli.
“Anggur di sini baru memasuki masa pembuahan pertama karena ditanam sekitar satu tahun lalu. Luas lahan kurang lebih 3.500 meter persegi dengan total 200 pohon,” ujar Junaidi.
Meski baru memasuki panen perdana, hasilnya terbilang menjanjikan. Dalam satu masa panen, produksi anggur dapat mencapai sekitar 4 kwintal. Menariknya, seluruh hasil panen tersebut ludes terjual hanya dalam waktu tiga hari. Tingginya permintaan tidak hanya datang dari warga Bojonegoro, tetapi juga dari pengunjung luar daerah yang sengaja datang untuk merasakan sensasi wisata petik anggur.
Junaidi menjelaskan, sebagian besar pembeli memilih sistem campur atau mix varian. Alasannya, setiap jenis anggur memiliki karakter rasa yang berbeda. Anggur Jupiter dikenal dengan rasa manis dan aroma wangi, Julian memiliki kulit tipis dengan rasa manis, Laria renyah dan segar, sementara varietas lainnya menawarkan sensasi rasa yang khas.
Keberhasilan kebun anggur Bandungrejo ini juga menarik perhatian pemerintah daerah. Bupati Bojonegoro bersama Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro sempat meninjau langsung lokasi kebun sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pertanian inovatif dan agrowisata berbasis desa.
Menurut Junaidi, dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi petani untuk terus mengembangkan hortikultura bernilai tambah. Ia berharap kebun anggur ini tidak hanya menjadi objek wisata musiman, tetapi juga menjadi model pengembangan pertanian modern yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
“Dengan antusiasme pengunjung yang tinggi, kami berharap kebun anggur ini bisa mendorong ekonomi desa dan menjadi contoh pertanian yang berorientasi wisata,” katanya.
Akses menuju lokasi kebun pun terbilang mudah. Infrastruktur jalan yang sudah memadai membuat perjalanan pengunjung nyaman, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Hal ini menjadi faktor pendukung penting bagi berkembangnya agrowisata di wilayah pedesaan.
Transformasi Desa Bandungrejo melalui agrowisata anggur menjadi bukti bahwa Bojonegoro tidak hanya bertumpu pada sektor migas. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor pertanian mampu menjadi kekuatan ekonomi baru sekaligus membuka peluang wisata yang berkelanjutan, berbasis potensi lokal dan kearifan desa.(Mu)




















Komentar