Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Kepedulian terhadap korban bencana tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Dari lingkungan madrasah di Kabupaten Bojonegoro, solidaritas untuk warga terdampak bencana di Flores dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diwujudkan melalui penggalangan donasi yang berhasil menghimpun dana sebesar Rp65 juta.
Aksi tersebut dilakukan MI Muhammadiyah 21 Kapas sebagai respons atas instruksi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di Flores dan NTT.
Bagi madrasah, penggalangan dana tersebut bukan sekadar kegiatan mengumpulkan uang untuk disalurkan kepada korban bencana. Ada nilai pendidikan yang ingin ditanamkan kepada para siswa, yakni membangun kepedulian terhadap sesama dan membiasakan diri merespons persoalan kemanusiaan.
Gerakan tersebut juga sejalan dengan semangat solidaritas Muhammadiyah dalam merespons bencana. Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya mengimbau jajaran Muhammadiyah, Amal Usaha Muhammadiyah, serta takmir masjid untuk menghimpun infak bagi masyarakat terdampak gempa Flores dan NTT.
Di tingkat madrasah, pesan tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk aksi nyata.
MI Muhammadiyah 21 Kapas menggalang partisipasi dari lingkungan sekolah dan masyarakat hingga terkumpul donasi Rp65 juta. Dana tersebut selanjutnya disalurkan sebagai bentuk dukungan bagi warga yang tengah menghadapi dampak bencana.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa lembaga pendidikan dapat mengambil peran lebih luas ketika terjadi persoalan kemanusiaan. Sekolah dan madrasah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter sosial peserta didik.
Bagi anak-anak, pengalaman terlibat dalam aksi solidaritas memberikan pembelajaran yang berbeda dari materi yang mereka temukan di dalam buku pelajaran. Mereka belajar bahwa kesulitan yang dialami masyarakat di daerah lain juga dapat menjadi perhatian bersama.
Nilai kepedulian semacam ini menjadi penting karena bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Masyarakat terdampak juga menghadapi persoalan kebutuhan pangan, tempat tinggal, kesehatan dan pemulihan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, bantuan yang dikumpulkan melalui gerakan solidaritas menjadi bagian dari dukungan masyarakat untuk membantu memenuhi kebutuhan para penyintas.
Solidaritas tersebut juga memperlihatkan bagaimana jaringan Muhammadiyah dapat menghubungkan kepedulian dari berbagai daerah dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Melalui koordinasi organisasi dan lembaga kemanusiaan, bantuan diharapkan dapat disalurkan secara lebih terarah.
Di Jawa Timur sendiri, dukungan terhadap penyintas gempa Flores terus dilakukan. LAZISMU Jawa Timur pada September 2026 kembali mengirim bantuan logistik ke Flores, termasuk kebutuhan hunian darurat dan pangan, melalui jaringan relawan Muhammadiyah di wilayah terdampak.
Dalam konteks tersebut, donasi dari MI Muhammadiyah 21 Kapas menjadi bagian dari rangkaian solidaritas yang lebih luas.
Yang menarik, aksi tersebut justru bermula dari lingkungan pendidikan dasar. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dapat ditanamkan sejak dini tanpa harus menunggu seseorang dewasa atau memiliki sumber daya besar.
Besarnya donasi Rp65 juta memang menjadi angka yang patut dicatat. Namun, nilai penting dari gerakan tersebut tidak hanya terletak pada nominal yang berhasil dihimpun.
Ada pesan bahwa kepedulian dapat tumbuh dari lingkungan terkecil, kemudian berkembang menjadi gerakan bersama ketika mendapatkan dukungan dan koordinasi yang baik.
Bagi MI Muhammadiyah 21 Kapas, gerakan ini sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter. Para siswa diperkenalkan pada nilai berbagi, empati, gotong royong dan kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
Dari Kapas, Bojonegoro, solidaritas kemudian diarahkan kepada saudara-saudara di Flores dan NTT.
Jarak geografis yang jauh tidak menjadi penghalang untuk menunjukkan kepedulian. Justru melalui gerakan kemanusiaan semacam inilah nilai persaudaraan dapat diwujudkan dalam bentuk yang konkret.
Pada akhirnya, donasi Rp65 juta tersebut bukan hanya tentang sejumlah dana yang berhasil dikumpulkan. Di baliknya terdapat pesan pendidikan yang lebih panjang: anak-anak tidak hanya diajarkan untuk berprestasi, tetapi juga untuk peduli dan hadir ketika orang lain membutuhkan.(*red)















Komentar