Dari Produk Lokal ke Pasar Global, Dekranasda Bojonegoro Gandeng Kampus Perkuat UMKM

Dekranasda Bojonegoro membuka peluang kolaborasi dengan Universitas Brawijaya untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM. Penguatan desain, kemasan, branding, pemasaran digital hingga akses pasar menjadi perhatian agar produk lokal lebih kompetitif

banner 468x60

Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Produk UMKM tidak cukup hanya memiliki kualitas yang baik untuk mampu menembus pasar yang lebih luas. Kemampuan membaca selera konsumen, membangun merek, mengemas produk, hingga memanfaatkan pemasaran digital menjadi bagian yang semakin menentukan daya saing usaha.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro dalam membuka peluang kolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB).

banner 336x280

Peluang kerja sama tersebut mengemuka dalam kegiatan International Community Development Thematic Sustainable Development Goals (SDGs) yang berlangsung di Creative Room lantai 6 Gedung Pemkab Bojonegoro, Jumat (18/9/2026).

Pertemuan tersebut menjadi ruang bertemunya potensi akademik perguruan tinggi dengan kebutuhan pengembangan UMKM di daerah. Dekranasda melihat keterlibatan perguruan tinggi dapat memberikan perspektif baru bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produknya.

Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono menyambut baik kegiatan yang digelar UB tersebut. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.

Selama ini, sejumlah perajin Bojonegoro telah memiliki pengalaman memasarkan produknya hingga ke luar negeri. Kondisi tersebut menjadi modal untuk memperluas jaringan pemasaran sekaligus meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Cantika menyebut peluang kolaborasi juga diharapkan tidak berhenti pada satu negara. Kerja sama dengan Timor-Leste, misalnya, dapat dikembangkan ke negara lain seperti Malaysia, Brunei, Thailand, maupun pasar internasional lainnya.

Namun, perluasan pasar membutuhkan kesiapan produk. UMKM harus mampu memahami bahwa konsumen tidak hanya melihat barang dari sisi fungsi, tetapi juga mempertimbangkan desain, kemasan, identitas merek, cerita produk, serta cara produk tersebut dipasarkan.

Karena itu, sejumlah aspek menjadi perhatian dalam pengembangan UMKM Bojonegoro. Mulai dari desain produk, kualitas, kemasan, branding, pemasaran digital, fotografi produk, storytelling, hingga kemampuan membaca tren pasar.

Perubahan perilaku konsumen membuat pemasaran digital semakin penting bagi pelaku usaha. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini memiliki peluang diperkenalkan kepada konsumen dari daerah lain bahkan luar negeri melalui kanal digital.

Namun, kehadiran di ruang digital juga menuntut kemampuan baru. Foto produk harus mampu menarik perhatian, informasi produk perlu disampaikan secara jelas, sementara identitas merek harus konsisten agar mudah dikenali konsumen.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi dapat berperan sebagai mitra pengembangan pengetahuan. Pendekatan akademik dapat dipertemukan dengan pengalaman pelaku UMKM yang memahami langsung kondisi pasar dan karakter produk lokal.

Cantika mengatakan pihaknya terbuka untuk menyerap berbagai pengetahuan yang dapat mendukung pengembangan UMKM. Menurutnya, pelaku usaha memang perlu terus belajar dan meningkatkan kapasitas agar tidak tertinggal oleh perubahan pasar.

Kolaborasi dengan UB juga melanjutkan upaya Dekranasda membangun jejaring dengan perguruan tinggi. Sebelumnya, Dekranasda Bojonegoro telah bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dalam pengembangan filosofi batik Bojonegoro.

Kerja sama tersebut diarahkan agar motif batik tidak sekadar memiliki nilai estetika, tetapi juga berkaitan dengan identitas lokal Kabupaten Bojonegoro.

Pengembangan produk juga tidak berhenti pada kain batik. Produk turunannya telah dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti sepatu, tas, aksesori, dekorasi, hingga suvenir.

Pengembangan produk turunan tersebut membuka ruang kreativitas bagi pelaku UMKM. Produk lokal dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasar tanpa harus kehilangan identitas yang menjadi ciri khas daerah.

Sementara itu, Ketua Pengabdian Masyarakat International Community Development Thematic SDGs UB, Setyo Tri Wahyudi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

UB berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada kunjungan atau diskusi. Kolaborasi diharapkan dapat menghasilkan kerja sama nyata yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat menjadi salah satu poin penting. Artinya, program pengembangan UMKM perlu disusun berdasarkan persoalan yang benar-benar dihadapi pelaku usaha, bukan hanya berdasarkan program yang bersifat umum.

Dari sisi UMKM, kebutuhan tersebut bisa berbeda antara satu sektor dengan sektor lainnya. Perajin batik memiliki persoalan yang berbeda dengan produsen makanan, kerajinan, gerabah, atau produk kreatif lainnya.

Karena itu, pengembangan kapasitas perlu dilakukan secara spesifik. Pelaku usaha membutuhkan pendampingan yang dapat menjawab persoalan produksi, pemasaran, desain, pengelolaan merek, hingga akses pasar sesuai karakter produknya.

Kolaborasi antara Dekranasda dan UB membuka kemungkinan pendekatan tersebut dilakukan secara lebih terstruktur. Pemerintah daerah memiliki jaringan pelaku usaha, sementara perguruan tinggi memiliki sumber daya pengetahuan dan pengalaman pengabdian masyarakat.

Jika kedua potensi tersebut dapat dipertemukan secara berkelanjutan, pengembangan UMKM tidak hanya berhenti pada pelatihan. Ada peluang untuk membangun pendampingan, inovasi produk, penguatan manajemen, hingga pembukaan jejaring pasar.

Bagi Bojonegoro, langkah tersebut menjadi penting karena UMKM merupakan bagian dari ekosistem ekonomi daerah. Semakin kuat kapasitas pelaku usaha, semakin besar pula peluang produk lokal memiliki posisi yang lebih baik di tengah persaingan pasar.

Pada akhirnya, tantangan UMKM bukan sekadar bagaimana menghasilkan produk. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut memiliki identitas, mampu menarik konsumen, dipasarkan dengan strategi yang tepat, serta dapat berkembang mengikuti perubahan kebutuhan pasar.

Kolaborasi Dekranasda Bojonegoro dan Universitas Brawijaya kini membuka ruang menuju tujuan tersebut. Dari produk lokal, target berikutnya bukan hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar nasional hingga internasional.(*red)

banner 336x280

Komentar