Distribusi Pupuk Bersubsidi di Bojonegoro Tersendat, Praktik Pasar Gelap Meningkat

Petani di Kecamatan Tambakrejo terdampak keterlambatan pasokan, memaksa pembelian ilegal dengan harga tinggi; pengawasan pemerintah dinilai masih lemah.

banner 468x60

Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Kelangkaan pupuk bersubsidi kembali memicu keresahan di kalangan petani Dusun Malingmati, Desa Malingmati, Kecamatan Tambakrejo. Keterlambatan distribusi yang berulang memaksa petani mencari alternatif demi menjaga produktivitas padi dan jagung, bahkan membeli melalui jalur tidak resmi dengan harga hingga Rp400 ribu per sak, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Ngatiman, petani setempat, menilai praktik pasar gelap ini merupakan dampak langsung dari lemahnya pengawasan distribusi. “Kalau pupuk datang terlambat, panen kami terancam. Petani kecil selalu menjadi pihak yang dirugikan,” ungkapnya, Selasa (12/05/2026).

banner 336x280

Hasil investigasi lapangan menunjukkan sejumlah kios resmi seringkali gagal menyalurkan pupuk sesuai jadwal. Distribusi yang tersendat disinyalir akibat keterbatasan stok, prosedur administratif yang rumit, dan koordinasi yang kurang antara distributor, pengecer, dan pemerintah daerah. Kondisi ini membuka celah bagi peredaran pupuk bersubsidi di pasar gelap dengan harga jauh lebih tinggi.

Para petani mendesak pemerintah daerah melalui dinas pertanian melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai distribusi, memperketat pengawasan distributor dan kios resmi, serta memastikan pupuk sampai tepat waktu ke tangan petani.

Ahli pertanian lokal menekankan bahwa kelancaran distribusi pupuk bersubsidi merupakan faktor krusial untuk ketahanan pangan dan keberlangsungan ekonomi masyarakat pedesaan. Jika masalah ini tidak segera diatasi, produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani kecil akan terus terancam.(Mu)

banner 336x280

Komentar