Menuju Geowisata Kelas Dunia, Pokdarwis Kedung Lantung Ditempa Perkuat Manajemen dan Identitas Wisata

Di balik upaya Bojonegoro meraih status UNESCO Global Geopark, masyarakat Desa Drenges mulai dipersiapkan menjadi aktor utama pengelolaan wisata melalui penguatan kelembagaan dan strategi branding kawasan

banner 468x60

Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Ambisi Bojonegoro untuk menembus pengakuan dunia melalui status UNESCO Global Geopark tidak hanya bertumpu pada kekayaan geologi yang dimiliki. Lebih dari itu, kesiapan masyarakat sebagai pengelola dan pelaku utama wisata menjadi faktor penting yang kini mulai diperkuat.

Langkah tersebut terlihat melalui kegiatan Pelatihan Pemandu Geosite Kedung Lantung bertema “Manajemen Pokdarwis dan Branding Kawasan Wisata” yang digelar sebagai bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

banner 336x280

Kegiatan yang difasilitasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (UNIGORO) itu menjadi upaya membangun fondasi kelembagaan bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung yang diproyeksikan menjadi motor penggerak pengembangan geowisata berbasis masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan langsung dari praktisi pariwisata asal Yogyakarta, Galuh Alif Fahmi Rizki, yang telah lebih dari satu dekade mendampingi pengembangan desa wisata di berbagai daerah.

Pengalaman Galuh dalam mengantarkan Desa Wisata Tinalah, Kulon Progo, menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia menjadi referensi penting bagi Pokdarwis Kedung Lantung yang saat ini masih berada dalam tahap penguatan organisasi.

Menurut Galuh, keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam atau keunikan geosite yang dimiliki. Faktor yang lebih menentukan justru terletak pada kualitas organisasi pengelola dan kemampuan masyarakat membangun identitas kawasan.

Karena itu, peserta dibekali berbagai materi mulai dari penyusunan visi dan misi organisasi, penyusunan aturan kelembagaan, hingga strategi membangun citra destinasi agar memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kawasan wisata lainnya.

“Objek wisata yang menarik tidak akan berkembang maksimal tanpa organisasi yang kuat dan memiliki arah yang jelas,” ujarnya dalam sesi pelatihan.

Selain memperkuat aspek kelembagaan, peserta juga diajak memetakan seluruh potensi lokal yang dapat menjadi bagian dari ekosistem wisata Kedung Lantung.

Potensi tersebut tidak hanya terbatas pada keindahan geosite, tetapi juga mencakup produk UMKM, kuliner khas desa, hasil pertanian unggulan, seni budaya, hingga keberagaman flora dan fauna yang dimiliki wilayah sekitar.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar manfaat ekonomi dari sektor wisata tidak hanya dinikmati pengelola destinasi, melainkan mampu dirasakan secara luas oleh masyarakat sekitar.

Bagi Pokdarwis Kedung Lantung, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menarik wisatawan, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang.

Salah satu anggota Pokdarwis, Rico Thomas, mengakui bahwa proses membangun pemahaman di internal kelompok maupun masyarakat masih menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara bertahap.

Menurutnya, sebelum mengajak masyarakat bergerak bersama, anggota Pokdarwis harus lebih dahulu memahami nilai strategis Kedung Lantung sebagai aset wisata masa depan.

“Kami ingin Kedung Lantung tidak hanya dikenal sebagai lokasi wisata, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Desa Drenges,” katanya.

Di sisi lain, LPPM UNIGORO memastikan proses pendampingan tidak berhenti pada pelatihan ini saja. Tim pendamping berkomitmen terus menghadirkan narasumber dan praktisi yang memiliki pengalaman nyata dalam pengembangan kawasan wisata berbasis masyarakat.

Project Manager Program Dukungan Geopark Bojonegoro dari LPPM UNIGORO, Ichwan Hadi, mengatakan bahwa transfer pengalaman dari para praktisi menjadi salah satu kunci untuk mempercepat kapasitas sumber daya manusia lokal.

Sementara itu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menilai penguatan masyarakat harus berjalan beriringan dengan pembangunan sarana dan prasarana kawasan wisata.

Perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tanpa kesiapan masyarakat akan membuat potensi wisata sulit berkembang secara optimal.

Karena itu, program peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan Geosite Kedung Lantung ke depan.

Melalui pelatihan tersebut, Kedung Lantung tidak hanya dipersiapkan sebagai destinasi wisata alam semata. Kawasan ini mulai diarahkan menjadi pusat geowisata berbasis masyarakat yang mampu mengintegrasikan potensi geologi, budaya, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan warga.

Jika proses penguatan kelembagaan dan pengembangan kawasan berjalan konsisten, Geosite Kedung Lantung berpeluang menjadi salah satu etalase penting Geopark Bojonegoro dalam perjalanan menuju pengakuan internasional sebagai UNESCO Global Geopark.

Pada akhirnya, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata.(red)

banner 336x280

Komentar