Reses Turun Sawah, Ahmad Suyono Ajak Petani Bojonegoro Bertani Hemat Biaya dan Berkelanjutan

Legislator NasDem Praktikkan Langsung Inovasi Biosaka dan N-Level 1, Dorong Pertanian Efisien Tanpa Beban Modal Tinggi

banner 468x60

Halobojonegoro.id, Bojonegoro –

Agenda reses kerap identik dengan pertemuan formal dan dialog di ruang tertutup. Namun hal berbeda ditunjukkan Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro dari Fraksi Partai NasDem, Ahmad Suyono, dalam Reses Masa Sidang I Tahun 2026. Legislator ini memilih meninggalkan ruang rapat dan turun langsung ke pematang sawah, menyatu bersama petani untuk berbagi pengetahuan praktis di lapangan.

banner 336x280

Kegiatan yang digelar pada Rabu (4/2/2026) tersebut diikuti oleh kelompok tani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat. Di tengah hamparan sawah, Ahmad Suyono tidak hanya menyerap aspirasi, tetapi juga memberikan edukasi langsung mengenai inovasi pertanian yang dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Mengusung slogan “Bertani Bahagia, Petani Sejahtera”, Ahmad Suyono menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam dunia pertanian. Menurutnya, petani tidak harus selalu bergantung pada input mahal untuk mendapatkan hasil panen yang optimal.

“Persoalan utama petani hari ini adalah biaya. Pupuk mahal, sarana produksi mahal. Di sini kita belajar bagaimana bertani lebih efisien, tapi hasil tetap maksimal,” ujar Ahmad Suyono di sela-sela praktik lapangan.

Dalam kesempatan tersebut, ia memperkenalkan kombinasi penggunaan Biosaka dan N-Level 1 sebagai alternatif inovasi yang ramah kantong petani. Metode ini dinilai relevan dengan kondisi petani saat ini yang dihadapkan pada fluktuasi harga pupuk dan keterbatasan modal usaha.

Ahmad Suyono menjelaskan, Biosaka merupakan elisitor alami yang dibuat dari bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar lahan pertanian, seperti rumput atau tanaman sehat. Melalui pendekatan “dari alam kembali ke alam”, petani diajak memanfaatkan potensi lingkungan sekitar tanpa ketergantungan pada produk kimia berbiaya tinggi.

Dalam sesi edukasi, para petani dibimbing secara rinci mulai dari proses pemilihan bahan, teknik peremasan manual di dalam air hingga homogen, sampai cara aplikasi yang tepat di tanaman. Proses tersebut dilakukan bersama-sama, menciptakan suasana belajar yang interaktif dan membumi.

“Kita tekan biaya produksi, tapi kualitas panen harus tetap terjaga. Efisiensi bukan berarti menurunkan hasil, justru ini jalan agar petani lebih berdaulat,” tegasnya.

Lebih jauh, Ahmad Suyono menegaskan bahwa filosofi “Bertani Bahagia” tidak hanya soal hasil panen, tetapi juga menyangkut ketenangan hidup petani. Ia menilai, petani yang terbebas dari tekanan utang modal akan lebih fokus mengelola lahannya dan menjaga keberlanjutan produksi.

“Petani bahagia itu petani yang bisa bertani tanpa rasa was-was karena utang. Kalau biaya bisa ditekan, kesejahteraan akan mengikuti,” ungkapnya.

Langkah konkret tersebut mendapat apresiasi dari pengurus Gapoktan dan para petani yang hadir. Mereka menilai pendekatan langsung di lapangan jauh lebih mudah dipahami dibandingkan sosialisasi teori semata. Para petani juga berharap pendampingan dan edukasi serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan di Bojonegoro.

Melalui reses berbasis aksi nyata ini, Ahmad Suyono menegaskan bahwa peran wakil rakyat tidak berhenti pada fungsi legislasi dan pengawasan. Kehadiran langsung di tengah petani, menurutnya, adalah bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan kebijakan dan inovasi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat bawah.(red)

banner 336x280

Komentar