Halobojonegoro.id, BOJONEGORO – Proyek pembangunan jembatan di Desa Ngablak, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, kembali menjadi sorotan masyarakat. Jembatan yang dibangun melalui program Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) Tahun Anggaran 2025 tersebut kembali menuai protes setelah hanya sempat difungsikan selama beberapa jam sebelum akhirnya ditutup kembali karena alasan keamanan, Selasa (7/7/2026).
Sejumlah warga mengaku kecewa lantaran jembatan yang diharapkan mampu memperlancar mobilitas justru belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, pembangunan infrastruktur tersebut menggunakan anggaran yang nilainya mencapai sekitar Rp2 miliar pada tahap pertama.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan, usai pekerjaan konstruksi dinyatakan selesai, jembatan sempat dibuka untuk dilalui masyarakat. Namun, tidak lama kemudian akses kembali ditutup karena adanya pertimbangan terkait kondisi keamanan konstruksi.
“Setelah selesai hanya dibuka sekitar tiga jam. Setelah itu langsung ditutup lagi karena alasan keamanan. Sampai sekarang juga masih belum bisa digunakan,” ujarnya.
Menurut warga, keputusan menutup kembali jembatan menunjukkan masih adanya persoalan teknis yang perlu segera diselesaikan. Mereka khawatir apabila jembatan dipaksakan digunakan sebelum benar-benar dinyatakan layak, justru dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Karena itu, masyarakat memilih menunggu hasil evaluasi dari pihak terkait dibanding mengambil risiko melintasi jembatan yang dinilai belum sepenuhnya aman.
Selain mempertanyakan aspek keselamatan, warga juga menyoroti belum optimalnya manfaat pembangunan tersebut. Mereka menilai anggaran yang telah dikucurkan seharusnya mampu menghasilkan infrastruktur yang langsung dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Kami berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengevaluasi hasil pekerjaannya agar jembatan ini benar-benar aman dan bisa digunakan oleh masyarakat,” tambahnya.
Keberadaan jembatan tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas warga, baik untuk akses pendidikan, pertanian, maupun kegiatan ekonomi. Selama jembatan belum difungsikan, masyarakat masih harus menggunakan jalur alternatif yang dinilai kurang efisien dan membutuhkan waktu tempuh lebih lama.
Warga berharap proses evaluasi teknis dapat segera dilakukan secara menyeluruh, termasuk memastikan seluruh komponen konstruksi telah memenuhi standar keamanan sebelum jembatan dibuka kembali untuk umum.
Hingga berita ini diterbitkan, SuaraBojonegoro.com masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Pemerintah Desa Ngablak, pihak pelaksana pekerjaan, maupun instansi teknis terkait mengenai alasan penutupan jembatan serta kondisi konstruksi yang menyebabkan akses tersebut belum dapat difungsikan. Apabila terdapat penjelasan resmi, redaksi akan memuatnya sebagai bagian dari pemberitaan yang berimbang.(*red)














Komentar