Bulog Bojonegoro Lampaui Target Serapan Jagung 2026, Tembus Lebih dari 10 Ribu Ton

Keberhasilan penyerapan jagung di Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban disebut menjadi langkah strategis menjaga harga petani sekaligus memperkuat cadangan pangan nasional.

Bojonegoro, Ekonomi, Tuban1554 Dilihat
banner 468x60

Halobojonegoro.id, Bojonegoro – Perum BULOG Kantor Cabang Bojonegoro mencatat capaian positif dalam Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (PSO) tahun 2026. Hingga akhir periode penyerapan, realisasi pengadaan Jagung Pipil Kering berhasil melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah.

Dari target serapan sebesar 10.030 ton, BULOG Bojonegoro mampu merealisasikan penyerapan sebanyak 10.063 ton atau mencapai 100,33 persen.

banner 336x280

Pemimpin Perum BULOG Kantor Cabang Bojonegoro, Umar Said, menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi berbagai pihak di wilayah kerja, mulai dari pemerintah daerah, aparat kepolisian, kelompok tani, hingga mitra penggilingan jagung.

Menurutnya, proses penyerapan dilakukan di tiga daerah yang menjadi wilayah kerja BULOG Bojonegoro, yakni Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban.

“Penyerapan Jagung Pipil Kering dilakukan di tiga wilayah kerja Perum BULOG Kantor Cabang Bojonegoro, yakni Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Tuban,” ujar Umar Said.

Program serapan jagung ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga hasil panen di tingkat petani agar tidak jatuh saat musim panen raya. Selain itu, langkah tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penyediaan cadangan pangan pemerintah.

Dalam pelaksanaannya, BULOG menetapkan harga pembelian sebesar Rp6.400 per kilogram untuk jagung kemasan 50 kilogram dengan kadar air maksimal 14 persen. Sedangkan jagung curah dengan kadar air antara 18 hingga 20 persen dibeli dengan harga Rp5.500 per kilogram.

Umar Said menilai capaian serapan yang melampaui target tersebut diharapkan mampu memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani jagung, khususnya di wilayah Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban yang selama ini menjadi sentra produksi jagung di Jawa Timur.

Selain menjaga harga tetap stabil, program ini juga menjadi instrumen pemerintah dalam memastikan hasil panen petani terserap pasar dengan baik sehingga rantai distribusi pangan nasional tetap terjaga.(Mu)

banner 336x280

Komentar